Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Sunday, 1 January 2012

Konflik Chad-Libya

Konflik Chad-Libya adalah sebuah konflik militer sporadis di Chad yang terjadi pada tahun 1978 sampai tahun 1987. Konflik ini adalah konflik yang terjadi antara Libya dan Chad, tetapi intervensi Libya dalam permasalahan Chad sudah terjadi sebelum tahun 1978, bahkan sebelumMuammar al-Gaddafi berkuasa pada tahun 1969. Perang ini dimulai sebagai perluasan dari Perang Saudara Chad di Chad utara tahun 1968. Konflik ini ditandai dengan keikutsertaan Libya di Chad pada tahun 1978, 1979, 1980–1981 dan 1983–1987. Gaddafi telah mendukung beberapa faksi yang berpartisipasi dalam perang sipil dan musuh dari Libya menerima bantuan dari pemerintahan Perancis. Hal itu menyebabkan adanya campur tangan militer untuk menyelamatkan pemerintah Chad pada tahun 1978, 1983 dan tahun 1986.

Latar belakang militer dari perang ini digambarkan pada tahun 1978, dengan Libya memberi bantuan pelindung, artileri, angkatan udara dan infantri, dan mengambil bagian terbesar dalam mengamati dan berperang. Latar belakang ini akhirnya berubah pada tahun 1986, saat perang akan berakhir, ketika semua pasukan Chad yang melawan Libya merebut Chad utara dengan persatuan yang tidak pernah dilihat sebelumnya di Chad. Ini menghilangkan kebiasaan infantri pasukan Libya, terutama saat mereka melawan tank, mereka telah menyediakan anti-tank dan anti-misil, namun melemahkan kekuatan senjata api Libya. Yang terjadi selanjutnya adalah Perang Toyota. Pasukan Libya dapat dikalahkan dan dipukul mundur oleh Chad, dan juga mengakhiri konflik ini.

Alasan keikutsertaan Gaddafi dalam konflik di Chad adalah ambisinya atas daerah Jalur Aouzou, bagian terutara Chad yang diklaim sebagai bagian dari Libya berdasarkan sebuah perjanjian yang belum disahkan pada saat periode kolonial. Pada tahun 1972, keinginannya tercapai, dalam evaluasi dari ahli sejarah Mario Azevedo, didirikannya negara bagian klien di bawah Libya, sebuah republik Islam dimodelkan menurutjamahiriya-nya, yang akan membawa hubungan dekat dengan Libya, dan mengambil alih Jalur Aouzou, mengusir kekuasaan Perancis dari daerah itu, dan menggunakan Chad sebagai tempat untuk memperluas kekuasaannya di Afrika Tengah.

Peristiwa-peristiwa

Pendudukan Jalur Aozou



Keikutsertaan Libya di Chad mulai terlihat pada tahun 1968, selama periode Perang Saudara Chad danpemberontak Muslim FROLINAT melaksanakan perang gerilya terhadap Presiden Chad, François Tombalbaye yang beragama Kristen di daerah utara Chad, yaitu di Prefektur BET. Selalu ada hubungan kuat di daerah perbatasan Chad-Libya, oleh karena itu, Raja Libya, Idris I merasa perlu untuk memberikan bantuan kepada FROLINAT, dan juga untuk mempertahankan hubungan baik dengan Chad dan pelindungnya, Perancis, Idris membatasi bantuannya dengan hanya memberikan tempat perlindungan untuk pemberontak FROLINAT dan bantuan logistik ,dan juga Idris tidak memberi bantuan berupa senjata.

Namun, semua hal ini berubah dengan terjadinya kudeta pada tanggal 1 September 1969 di Libya. Kudeta ini menjatuhkan Idris, sehingga Muammar al-Gaddafi naik tahta. Gaddafi pun mengklaim Jalur Aouzou di daerah Chad Utara dengan merujuk kepada perjanjian yang belum disahkan dari tahun 1935 oleh Italia dan Perancis, (kala itu kekuatan kolonial Libya dan Chad persisnya). Pengklaiman ini sudah dinyatakan pada tahun 1954. Idris mencoba untuk menduduki Aouzou, tetapi pasukannya dapat dikalahkan oleh tentara Perancis.

Meski mula-mula waspada akan FROLINAT, Gaddafi pada tahun 1970 melihat bahwa organisasi ini berguna untuk kebutuhannya dan dengan bantuan negara-negara blok Uni Soviet, terutama Jerman Timur, melatih dan mempersenjatai pasukan perlawanan, dan memberi mereka senjata dan uang.[7][1]Pada tanggal 27 Agustus 1971, Gaddafi berani untuk melakukan kudeta terhadap Tombalbaye, yang hampir saja berhasil. Kudeta ini dilaksanakan karena kegelisahan Libya, karena pada tanggal 24 Juli, terjadi upaya rekonsiliasi Muslim-Kristen dengan penyerahan separuh kursi kabinet Chad kepada para politikus Muslim. Walaupun ditolak oleh FROLINAT, hal ini dianggap Gaddafi sebagai ancaman atas kekuasaannya di Chad.

Pada hari yang sama, Tombalbaye memutuskan hubungan diplomatik dengan Libya, dan mengundang semua kelompok oposisi Libya untuk pergi ke Chad, dan mulai mengklaim wilayah Fezzan berdasarkan "hak-hak historis". Respon Gaddafi secara resmi mengakui pada 17 September bahwa FROLINAT sebagai satu-satunya Pemerintahan Chad yang sah, dan pada bulan Oktober, menteri luar negeri Chad, Baba Hassan, di PBB mengecam "rencana ekspansi" Libya.

Dengan adanya tekanan Perancis terhadap Libya, dan dengan Hamani Diori, Presiden Niger memainkan peran sebagai pelerai, kedua negara melanjutkan hubungan diplomatik pada tanggal 17 April 1972. Tidak lama kemudian, Tombalbaye memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel dan dikatakan telah diterima secara rahasia pada 28 November untuk menyerahkan Jalur Aouzou kepada Libya. Untuk penukaran, Gaddafi memberikan 40 juta pound kepada Presiden Chad dan kedua Negara menandatangani Perjanjian Persahabatan pada bulan Desember. Gaddafi menarik bantuan kepada FROLINAT dan memaksa pemimpinnya, Abba Siddick, untuk memindahkan bentengnya dari Tripoli ke kota Aljir. Relasi baik diterima untuk tahun-tahun selanjutnya, dan relasi baik ini ditandai dengan kunjungan Gaddafi ke ibukota negara Chad, N'Djamena pada Maret 1974, dan pada bulan yang sama, sebuah bank didirikan untuk memberikan kepada Chad dana investasi.

Enam bulan setelah perjanjian pada tahun 1972, pasukan Libya dipindah ke Jalur Aouzou dan sedikit di utara Aouzou, mendirikan sebuah lapangan udara yang dilindungi dengan senjata anti-rudal. Pemerintahan sipil didirikan, dan daerah ini digabung kepada Kufra, dan sekitar ribuan penduduk di daerah Aouzou berubah kewarganegaraan menjadi warna negara Libya. Selain itu, juga dibuat peta negara Libya yang baru dan Jalur Aouzou dimasukan kedalam bagian dari Libya.

Syarat yang pasti atas Libya menduduki Aouzou masih misterius dan diperdebatkan. Keberadaan persetujuan rahasia antara Tombalbaye dan Gaddafi terungkap hanya pada tahun 1988, saat Presiden Libya mempertunjukan salinan dari surat yang berisi tentang pengakuan Tombalbaye atas klaim Libya. Namun, beberapa sarjana seperti Bernard Lanne membantah dan menyatakan bahwa tidak pernah ada persetujuan resmi apapun, dan Tombalbaye menemukan jalan yang sangat berguna untuknya tidak untuk menyebutkan pendudukan bagian daerahnya. Selain itu, Libya tidak dapat menunjukan salinan asli dari persetujuan pada saat kasus Aouzou dibawa pada tahun 1993 keMahkamah Internasional.

Meluasnya pemberontakan

Hubungan ini tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 13 April 1975, sebuah kudeta terjadi dan menggulingkan Tombalbaye, lalu Jendral Felix Malloum naik tahta. Alasan dari kudeta ini adalah perlawanan atas kebijakan Tombalbaye dalam hal hubungan dengan Libya. Gaddafi merasa kudeta ini adalah ancaman atas kekuasaannya di Chad dan akhirnya ia melanjutkan bantuannya kepada FROLINAT.

Pada bulan April tahun 1976, terjadi usaha pembunuhan Malloum yang didukung oleh Gaddafi, dan pada tahun yang sama tentara Libya mulai melakukan penyerangan di daerah Chad Tengah, dan tentara Libya bekerja sama dengan pasukan FROLINAT.

Kegiatan Libya mulai membangkitkan kekhawatiran dalam faksi terkuat. FROLINAT berpisah dari faksi ini, yaitu CCFAN. Karena isu ketertarikan pendukung Libya, pasukan perlawanan terpecah pada bulan Oktober tahun 1976, dengan minoritas milisi membentuk Dewan Komando Angkatan Bersenjata Utara (FAN), dibentuk oleh orang yang anti Libya, Hissène Habré. Sementara sebagian besar bersedia bersekutu dengan Gaddafi, dipimpin oleh Goukouni Oueddei. Kelompok ini nantinya mengganti namanya menjadi Angkatan Bersenjata Rakyat.

Pada tahun-tahun ini, bantuan Gaddafi tidaklah banyak, hanya secara moril saja dan hanya memberi senjata yang terbatas jumlahnya. Hal ini mulai berubah pada bulan Februari tahun 1977, saat orang Libya memberi pasukan Goukouni ratusan senapan serbu AK-47, lusinan basoka, 81 dan 82mm mortar dan meriam. Karena Angkatan Bersenjata Rakyat dipersenjatai dengan senjata-senjata ini, Angkatan Bersenjata Rakyat mulai menyerang benteng Angkatan Bersenjata Chad (FAT) di Bardai, Zouar di Tibesti dan Ounianga Kebir di Borkou. Goukouni akhirnya memimpin serangan untuk menguasai Tibesti. Bardai telah dikepung sejak 22 Juni 1977 dan menyerah pada tanggal 4 Juli 1977. Zouar sendiri pun dievakuasi oleh Chad dan dikuasai oleh Libya. FAT kehilangan 300 orang, dan beberapa persediaan militer jatuh ke tangan FAT. Ounianga diserang pada tanggal 20 Juni 1977, tetapi diselamatkan oleh kehadiran penasehat militer Perancis disana.

Akibat isu yang mengatakan Jalur Aozou digunakan oleh Libya sebagai markas untuk intervensi lebih dalam di Chad, Malloum membawa kasus pendudukan Aozou ke PBB dan Organisasi Kesatuan Afrika. Malloum juga membutuhkan sekutu baru, oleh karena itu ia bernegosiasi dengan Habré dan menghasikan persetujuan Khartoum pada bulan September. Persetujuan ini dirahasiakan sampai tanggal 22 Januari 1978, saat sebuah Piagam Fundamental ditandatangani, diikuti dengan diikuti dengan dibentuknya Pemerintahan baru pada tanggal 29 Agustus 1978 dengan Habré sebagai Perdana Menteri. Persetujuan Malloum-Habré secara giat dipromosikan oleh Sudan dan Arab Saudi karena keduanya takut bahwa Chad akan dikontrol oleh Gaddafi dan Habré, dengan sifatnya sebagai Muslim yang saleh dan sikap yang anti-kolonialis sebagai satu-satunya kesempatan untuk menggagalkan rencana Gaddafi.

Reaksi Libya

Persetujuan Malloum-Habré dianggap Gaddafi sebagai ancaman serius atas pengaruhnya di Chad, dan reaksi dari Libya adalah peningkatan intervensi Libya di Chad. Untuk pertama kalinya terjadi intervensi aktif pasukan angkatan darat Libya, yaitu Angkatan Bersenjata Rakyat yang dimulai pada tanggal 29 Januari 1978 dengan melakukan serangan Ibrahim Abatcha dan mereka menyerang pos-pos yang dimiliki pemerintah Chad di daerah utara Chad, pos-pos tersebut adalah Faya-Largeau, Fada dan Ounianga Kebir. Serangan-serangan ini berhasil, Goukouni dan orang Libya menguasai seluruh Prefektur BET.

Konfrontasi menentukan antara pasukan Angkatan Bersenjata Rakyat Libya dan Angkatan Bersenjata Chad terjadi di Faya-Largeau, ibukota BET. Kota itu dilindungi oleh 5.000 pasukan, dan kota tersebut jatuh pada tanggal 18 Februari 1978 setelah pertempuran sengit yang dilakukan oleh 2.500 pemberontak, didukung oleh sekitar 4.000 pasukan Libya. Libya tidak berpartisipasi langsung dalam pertempuran, sebuah pola yang akan berulang di masa depan, namun Libya menyediakan pelindungan, artileri dan bantuan udara. Pemberontak juga lebih bersenjata daripada sebelumnya dan mereka menunjukan misil Strela 2.

Goukouni menangkap sekitar 2.500 tawanan dengan keberhasilannya ini, dan hasilnya adalah Pasukan Chad kehilangan sekitar 20% pasukannya, dan terutama pasukan nomad dan penjaga nasional benar-benar menipis karena jatuhnya Fada dan Faya. Goukouni menggunakan kemenangan ini untuk memperkuat posisinya di FROLINAT (selama kongres yang disponsori Libya yang diadakan pada bulan Maret di Faya, faksi utama pemberontak mempersatukan kembali kelompok mereka dan mencalonkan Goukouni sebagai sekretaris jendral FROLINAT).

Reaksi Malloum atas serangan Goukouni-Gaddafi adalah memutuskan hubungan diplomatik dengan Libya pada tanggal 6 Februari 1978 dan melaporkan kepada PBB tentang intervensi Libya dalam hal ini. Isu tentang pendudukan Jalur Aouzou oleh Libya pun muncul lagi, namun, pada tanggal 19 Februari 1978, setelah jatuhnya Faya, Malloum terpaksa menerima gencatan senjata dan menarik tuntutannya. Gencatan senjata dapat tercapai karena Libya telah menghentikan serangan Goukouni, selain itu Chad mendapat tekanan dari Perancis.

Malloum dan Gaddafi kembali membuka hubungan diplomatik pada tanggal 24 Februari 1978 di Sebha di Libya dan sebuah konferensi internasional sedang diadakan. Presiden Niger Seyni Kountchédan Wakil Presiden Sudan hadir sebagai pelerai, dan juga di bawah tekanan dari Perancis, Sudan dan Zaire, Malloum terpaksa menandatangani persetujuan Benghazi pada tanggal 27 Maret 1978 dan ia mengakui FROLINAT. Selain itu, persetujuan juga menghasilkan dibentuknya komite gabungan militer Libya—Niger yang bertugas untuk melaksanakan persetujuan itu. Persetujuan ini juga berisi syarat lain untuk Libya yang meminta agar semua kehadiran pasukan Perancis di Chad dihilangkan. Persetujuan prematur ini merupakan strategi Gaddafi untuk memperkuat kekuasaannya di Chad dan Goukouni. Perjanjian ini juga melemahkan kewibawaan Malloum di Chad selatan. Mereka menyatakan hal ini merupakan bukti kelemahan kepemimpinannya.

Pada tanggal 15 April 1978, beberapa hari setelah gencatan senjata, Goukouni meninggalkan Faya dan meninggalkan garnisun berjumlah 800 serdadu disana, lalu pergi menyerbu ibukota Chad,N'Djamena.

Permintaan kembalinya pasukan Perancis ke Chad telah dilakukan tahun 1977, setelah serangan pertama Goukouni. Malloum meminta kembalinya militer Perancis, namun Presiden Perancis Valéry Giscard d'Estaing awalnya enggan untuk ikut campur di Chad sebelum adanya pemilihan umum, yang diadakan pada bulan Maret tahun 1978, dan juga Perancis takut jika hubungan diplomatik yang menguntungkan dengan Libya terganggu. Pada akhirnya, kemunduran situasi yang deras di Chad membuat Presiden Perancis pada tanggal 20 Februari 1978 menjalankan Operasi Tacaud. Pada bulan April, Perancis mengirim sekitar 2.500 pasukan di Chad untuk menyelamatkan ibukota dari pemberontak.

Pertempuran yang menentukan terjadi di Ati, sebuah kota yang berlokasi 430 kilometer barat daya dari N’Djamena. Garnisun kota yang berjumlah 1.500 tentara diserang pada tanggal 19 Mei 1978 oleh pemberontak FROLINAT, yang dipersenjatai dengan persenjataan modern dan artileri. Garnisun itu diringankan dengan kedatangan bantuan dari pasukan Chad, dan lebih penting lagi, kedatanganLegiun Asing Perancis dan resimen infantri marinir ketiga. Dalam pertempuran yang berlangsung dua hari, FROLINAT dapat dipukul mundur dengan kekalahan yang berat, sebuah kemenangan yang dipertegas pada bulan Juni dengan pertempuran di Djedaa. FROLINAT mengakui kekalahannya dan mundur ke utara setelah kehilangan 2.000 orang dan meninggalkan persenjataan modern yang mereka bawa. Kunci dalam pertempuran ini adalah keunggulan angkatan udara Perancis karena pilot-pilot Angkatan Udara Libya menolak untuk melawan pesawat-pesawat Perancis.

Kesulitan Libya

Hanya beberapa bulan setelah serangan yang gagal terhadap N’Djamena, pertikaian dalam FROLINAT menghancurkan kesatuan FROLINAT serta melemahkan kekuasaan Libya di Chad. Pada malam27 Agustus 1978, Ahmat Acyl, pemimpin Pasukan Volcan menyerang Faya-Largeau dengan bantuan pasukan Libya dan terdapat sebuah usaha yang dilakukan oleh Gaddafi untuk menyingkirkan Goukouni dari kepemimpinan FROLINAT, dan menggantinya dengan Acyl. Goukoni bereaksi dengan mengeluarkan semua kehadiran penasehat militer Libya di Chad dan mulai mencari kompromi dengan Perancis.

Alasan dari perselisihan antara Gaddafi dan Goukouni adalah permasalahan etnis dan politik. FROLINAT terbagi di antara orang Arab, seperti Acyl, dan orang Toubou, seperti Goukouni dan Habré. Perbedaan etnis ini juga menggambarkan sikap yang berbeda ke arah Gaddafi dan buku hijaunya. Dalam fakta-fakta, Goukouni dan pengikutnya telah menunjukkan bahwa mereka malas untuk mengikuti permintaan Gaddafi untuk membuat buku hijau menjadi peraturan resmi FROLINAT, dan pertama telah mencoba untuk mengambil waktu, meninggalkan pertanyaan untuk menyelesaikan reunifikasi dari pergerakan. Ketika unifikasi selesai, dan Gaddafi menekan kembali untuk mengadopsi buku hijau, pertikaian di dewan revolusi menjadi nyata, dengan banyak menyatakan kesetiaan mereka kepada program partai pergerakan tahun 1966 ketika Ibrahim Abatcha menjadi sekretaris jendral pertama, ketika yang lain, di antara Acyl, secara penuh menganut ide Kolonel.

Di N'Djamena, kehadiran dua angkatan bersenjata yang sebaya, FAN Perdana Menteri dan FAT Presiden Malloum, mempersiapkan panggung pertempuran N'Djamena yang bertujuan untuk membawa tentang kerutuhan negara dan kenaikan golongan atas utara ke kekuasaan. Insiden kecil meningkat pada tanggal 12 Februari 1979 menjadi pertempuran besar antara pasukan Habré dan Malloum, dan pertempuran diperhebat pada tanggal 19 Februari 1979 ketika tentara Goukouni memasuki ibukota untuk bertempur bersama Habré melawan FAT. Diperkirakan pada tanggal 16 Maret 1979, ketika konferensi perdamaian internasional pertama dilakukan, 2.000 - 5.000 orang terbunuh dan 60.000 - 70.000 terpaksa mengungsi dari ibukota, dan dengan hebat mengurangi tentara Chad meninggalkan ibukota yang dikuasai pemberontak dan mereorganisasi ke selatan di bawah kepemimpinan Wadel Abdelkader Kamougué. Selama pertempuran, garnisun Perancis berdiri dengan pasif, dan juga menolong Habré dalam beberapa keadaan, ketika mereka meminta angkatan udara Chad untuk menghentikan pengebomannya.

Konferensi perdamaian internasional diadakan di Kano di Nigeria. Malloum berpartisipasi untuk tentara Chad, Habré untuk FAN dan Goukouni untuk Angkatan Bersenjata Rakyat. Persetujuan Kano ditandatangani pada tanggal 16 Maret 1979 oleh semua yang hadir, dan Malloum berhenti, diganti oleh dewan negara di bawah kepemimpinan Goukouni. Hal ini adalah hasil dari tekanan Perancis dan Nigeria atas Goukouni dan Habré untuk berbagi kekuasaan. Perancis melihat bagian ini sebagai strategi mereka untuk memotong semua hubungan antara Goukouni dan Gaddafi.

Beberapa minggu kemudian, faksi yang sama membentuk Pemerintahan Transisi Persatuan Nasional (GUNT), disimpan bersama untuk sebuah rencana untuk melihat Libya keluar dari Chad.

Walaupun menandatangani persetujuan Kano, Libya menjadi marah karena GUNT tidak memasukan pemimpin dari pasukan Volcan adan tidak mengakui klaim Libya atas Jalur Aouzou. Telah dilakukan sejak tanggal 13 April 1979 telah ada beberapa akitivitas militer Libya yang sedikit di Chad utara, dan dukungan disediakan untuk pergerakan di selatan, tetapi respon utama datang hanya setelah tanggal 25 Juni 1979, ketika sebuah ultimatum untuk formasi pemerintahan yang baru. Pada tanggal 26 Juni 1979, 2.500 tentara Libya menyerang Chad diarahkan ke Faya-Largeau, pasukan ini pertama kali dihalangi oleh milisi Goukouni, dan lalu terpaksa mundur, terutama karena pengintaian pesawat dan pengebom Perancis (pemerintah Chad telah melakukannya, setelah serangan dilakukan, Chad meminta bantuan Perancis). Pada bulan yang sama, faksi ditiadakan oleh GUNT di Chad utara dengan militer Libya mendukung pemerintahan oposisi, Front untuk Aksi Gabungan Sementara (FACP).

Karena pertempuran dengan Libya, sebuah pembebanan oleh Nigeria untuk melakukan boikot ekonomi dan tekanan internasional dibawa dalam sebah konferensi perdamaian internasional di Lagospada bulan Agustus. Sebelas faksi yang ada di Chad berpartisipasi dalam konferensi ini. Persetujuan Lagos ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1979. GUNT yang baru dibentuk dan terbuka untuk semua faksi. Tentara Perancis meninggalkan Chad, dan digantikan dengan pasukan perdamaian multinasional Afrika. GUNT baru dimulai pada bulan November, dengan Presidennya adalah Goukouni, wakil Presidennya adakah Kamougué, menteri pertahanannya adalah Habré dan Acyl sebagai menteri luar negeri. Walaupun terdapat kehadiran Habré, komposisi baru GUNT telah memiliki orang pro-Libya yang cukup untuk memuaskan Gaddafi.

Intervensi Libya

Hal ini menjadi jelas sejak awal bahwa Habré mengisolasi dirinya dari anggota GUNT lainnya. Ia diremehkan oleh anggota GUNT lainnya. Permusuhan Habré atas kekuasaan Libya di Chad dipersatukan dengan ambisinya dan kekejamannya: pengamat mengakhiri bahwa pemimpin perang tidak akan pernah berisi dengan apapun dari jabatan tertingi yang pendek. Dalam beberapa konteks diketahui bahwa segera atau nantinya sebuah konfrontasi bersenjata dengan Habré dan faksi pro-Libya akan terjadi, dan yang lebih penting lagi, antara Habré dan Goukouni.

Seperti yang diduga, pertempuran di ibukota antara FAN Habré dan grup pro-Libya menjadi lebih serius secara progresif. Pada akhirnya, pada tanggal 22 Maret 1980 sebuah insiden kecil, seperti pada tahun 1979 dengan yang pertama, menyebabkan terjadinya pertempuran N'Djamena kedua. Dalam waktu sepuluh hari, perselisihan antara FAN dan Angkatan Bersenjata Rakyat Goukouni, yang baik keduanya memiliki 1.000 - 1.500 pasukan di kota, telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan penerbangan sekitar setengah dari populasi ibukota. Beberapa pasukan Perancis yang tersisa, yang meninggalkan Chad pada tanggal 4 Mei 1980 menyatakan mereka netral, seperti yang dilakukan oleh pasukan Republik Demokratik Kongo.

Ketika FAN disuplai secara ekonomi dan militer oleh Sudan dan Mesir, Goukouni segera menerima bantuan setelah dimulainya pertempuran dengan bantuan bersenjata dari FAT Kamougué dan CDR Acyl, dan juga disediakan dengan artileri Libya. Pada tanggal 6 Juni 1980, FAN mengambil alih kekuasaan kota Faya. Hal ini menakutkan Goukouni, dan ia menandatangani perjanjian persahabatan dengan Libya pada tanggal 15 Juni 1980. Perjanjian itu memberi Libya tangan yang bebas di Chad, mengesahkan kehadirannya di Chad: hal ini terutama jelas dalam pasal pertama perjanjian itu yang tertulis bahwa kedua negara menjalankan pertahanan yang menguntungkan.

Dimulai pada bulan Oktober, tentara Libya melakukan sistem pengangkutan melalui udara menuju Aouzou Strip dioperasikan dalam sambungan dengan pasukan Goukouni untuk menduduki kembali Faya. Kota ini lalu digunakan sebagai titik kumpulan untuk tank, artileri dan kendaraan tempur lapis baja yang bergerak kearah selatan atas ibukota Chad, N'Djamena.

Sebuah serangan dimulai pada tanggal 6 Desember 1980, dipelopori oleh T-54 dan tank T-55 Uni Soviet dan menurut laporan oleh penasehat Uni Soviet dan Republik Demokratik Jerman, menyebabkan jatuhnya ibukota pada tanggal 16 Desember 1980. Pasukan Libya, berjumlah sekitar 7.000 sampai 9.000 orang dan paramiliter legiun Islam Pan-Afrika, 60 tank, dan kendaraan tempur lapis baja lainnya, telah diterbangkan sepanjang 1.100 kilometer di padang pasir dari perbatasan selatan Libya, sebagian oleh pengangkutan melalui udara dan transporter tank dan sebagian di bawah kekautan mereka sendiri. Perbatasan itu sekitar 1.000 sampai 1.100 kilometer dari markas utama Libya di pantai Laut Tengah. Intervensi Libya mendemonstrasikan sebuah kemampuan logistik yang mengesankan, dan merupakan kemenangan militer pertamanya dan pencapaian besar secara politik Gaddafi yang pertama.

Ketika terpukul mundur sampai pengasingan dan dengan pasukannya membatasi ke zona perbatasan Darfur, Habré tetap bersifat menantang: pada tanggal 31 Desember 1980, ia mengumumkan diDakar ia akan melanjutkan pertempuran gerilya melawan GUNT.

Mundurnya Libya

Pada tanggal 6 Januari 1981, sebuah pengumuman resmi gabungan dikeluarkan di Tripoli oleh Gaddafi dan Goukouni bahwa Libya dan Chad telah memilih "untuk bekerja untuk mencapai persatuan penhu di antara kedua negara". Rencana penyatuan menyebabkan reaksi berlawanan yang kuat di Afrika, dan dengan segara terdapat reaksi dari Perancis, bahwa pada tanggal 11 Januari 1981ditawarkan untuk menguatkan garnisun Perancis di negara-negara Afrika yang ramah dan ditempatkan pada tanggal 15 Januari 1981 armada laut Perancis di laut Tengah dalam keadaan siaga. Libya menjawab dengan mengancam untuk membebankan sebuah embargo minyak, sementara Perancis mengancam untuk bereaksi jika Libya menyerang negara lainnya. Persetujuan ini juga dilawan oleh semua menteri GUNT dengan Goukouni di Tripoli, dengan pengecualian Acyl.

Banyak pengamat percaya bahwa alasan di balik Goukouni yang menyetujui persetujuan dapat ditemukan dalam beberapa hal, tekanan kuat dan bantuan finansial yang dijanjikan oleh Gaddafi. Juga, hanya sebeluma ia mengunjungi ibukota Libya, Goukouni telah mengirim 2 dari panglima besarnya ke Libya untuk konsultasi. Di Tripoli, Goukouni dipelajari oleh Gaddafi bahwa mereka telah dibunuh oleh "orang Libya yang tidak sepakat", dan jika ia tidak mau untuk mendapat risiko kehilangan simpati Libya dan kehilangan kekuasaan, ia harus menerima rencana penggabungan.

Kepentingan oposisi yang ditemui menyebabkan Gaddafi dan Goukouni untuk berbicara tentang kepentingan dari hal ini, berbicara tentang persatuan rakyat, dan bukan negara, dan sebagai jalan pertama menuju kolaborasi yang lebih dekat, tetapi kerusakan telah dilakukan, dan dengan buruk melemahkan wibawa Goukouni sebagai nasionalis dan negarawan.

Meningkatnya tekanan internasional atas kehadiran Libya di Chad pada awalnya ditemui oleh Goukouni yang menyatakan bahwa Libya ada di Chad karena diminta oleh pemerintah, dan mediator internasional harus menerima keputusan pemerintah Chad. Dalam pertemuan yang dilakukan bulan Mei, Gokouni menyatakan bahwa sementara kemunduran pasukan Libya bukan prioritas, ia akan menerima keputusan Organisasi Kesatuan Afrika. Goukouni hampir tidak melakukan dalam beberapa waktu meninggalkan kepada bantuan militer Libya, yang dijanjikan dengan FAN Habré, selalu didukung oleh Mesir dan Sudan dan didanai melalui Mesir oleh CIA.

Dalam relasi antara Goukouni dan Gaddafi mulai memburuk. Tentara Libya berpatroli dalam berbagai tempat di Chad utara dan tengah, dalam jumlah yang telah mencapai sekitar 14.000 tentara pada bulan Januari - Februari. Tentara Libya di negara membuat sebuah gangguan di GUNT, oleh faksi yang mendukung Acyl dalam perselisihan dengan milisi lainnya, termasuk perselisihan yang terjadi pada bulan April dengan Angkatan Bersenjata Rakyat Goukouni. Terdapat juga usaha untuk melibyanisasi populasi lokal, yang membuat banyak pengakhiran unifikasi untuk Libya berarti Arabisasi dan pembebanan budaya politik Libya, dalam Buku Hijau.

Terjadi perselisihan pada bulan Oktober di antara legiuner Islam Gaddafi dan pasukan Goukouni, dan rumor bahwa Acyl merencanakan kudeta untuk menguasai kepemimpinan GUNT, Goukouni meminta pada tanggal 29 Oktober 1981 untuk menyelesaikan dan kemunduran tegas tentara Libya dari teritori Chad, dimulai dari ibukota, yang akan selelsai pada tanggal 31 Desember 1981. Orang Libya akan digantikan oleh pasukan Inter-Afrika Organisasi Kesatuan Afrika. Gaddafi menuruti dan pada tanggal 16 November semua pasukan Libya meninggalkan Chad, dan dilakukan distribusi pasukan kembali di Jalur Aouzou.

Kemunduran cepat Libya membuat banyak pengamat terkejut. Alasan ditemukan dalam keinginan Gaddafi untuk menjadi tuan rumah konferensi Organisasi Kesatuan Afrika tahun 1982 dan menguasai kepresidenan Organisasi Kesatuan Afrika pada tahun itu. Poin lain dapat ditemukan dalam situasi kesulitan Libya di Chad tanpa beberapa penerimaan internasional untuk kehadiran Libya, akan menjadi sulit untuk mengambil risiko menyebabkan perang dengan Mesir dan Sudan, dengan dukungan Amerika Serikat. Hal ini berarti bahwa Gaddafi telah meninggalkan tujuan yang ia lakukan untuk Chad, tetapi bahwa ia sekarang harus mencari orang lain sebagai pemimpin Chad. Goukouni telah membuktikan dirinya tidak dapat dipercaya.

Habré merebut N'Djamena

Komponen pertama IAF yang tiba di Chad adalah pasukan payung Republik Demokratik Kongo yang diikuti oleh pasukan Nigeria dan Senegal, membawa IAF menjadi 3.275 orang. Sebelum pasukan penjaga perdamaian secara penuh didistribusikan, Habré mengambil kesempatan atas mundurnya Libya, dan melakukan serangan besar-besaran di Chad timur, termasuk kota penting Abéché,yang jatuh pada tanggal 19 November 1982. Setelah itu pada awal bulan Januari, Oum Hadjer juga jatuh, hanya sekitar 100 mil dari Ati, kota yang bersangkut-paut terakhir sebelum ibukota. GUNT diselamatkan untuk beberapa waktu oleh IAF, hanya pasukan militer yang dapat dihargai mengkonfrontasi Habré, yang mencegah FAN merebut Ati.

Pada serangan ringan Habré, Organisasi Kesatuan Afrika meminta GUNT untuk membuka rekonsiliasi dengan Habré, sebuah permintaan yang ditolak oleh Goukouni. Nantinya ia berkata:

“              Organisasi Kesatuan Afrika telah menipu kita. Keamanan kita seluruhnya dijamin oleh tentara Libya. Organisasi Kesatuan Afrika menaruh tekanan terhadap kita untuk mengeluarkan Libya. Sekarang ketika mereka telah pergi, organisasi telah meninggalkan kita ketika membebankan terhadap kita sebuah negosiasi dengan Hissein Habre      "

Pada bulan Mei, FAN memulai serangan terakhir, melewati dengan tak dirintangi oleh penjaga perdamaian di Ati dan Mongo. Goukouni marah dengan penolakan IAF untuk melawan Habré, membuat sebuah usaha untuk mengembalikan relasinya dengan Libya, dan mencapai Tripoli pada tanggal 23 Mei 1982, tetapi Gaddafi, terbakar oleh pengalamannya pada tahun sebelumnya, memproklamasikan kenetralan Libya dalam perang saudara di Chad.

Pasukan GUNT mencoba untuk melakukan sebuah pendirian terakhir di Massaguet, 50 mil sebelah utara ibukota di jalan Abéché-N'Djamena, tetapi ditaklukan oleh FAN pada tanggal 5 Juni 1982setelah pertempuran berat. 2 hari kemudian, Habré memasuki N'Djamena tanpa adanya perlawanan, membuatnya secara de facto sumber pemerintahan nasional di Chad, ketika Goukouni melarikan diri dari Chad mencari perlindungan di Kamerun.

Segera setelah pendudukan ibukota, Habré memulai mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan menduduki sisa dari negara. Dalam waktu 6 minggu, ia menguasai Chad selatan, menghancurkanFAT, milisi Kamougué, yang berharap untuk bantuan Libya untuk menggagalkan. Sisa dari negara juga dimasukan, dengan pengecualian Tibesti.

Serangan GUNT

Sejak Gaddafi telah menyimpan dirinya hampir jauh dari jatuhnya N'Djamena, Habré berharap pada awalnya untuk mencapai sebuah pengeritan dengan Libya, melalui sebuah persetujuan dengan wali di Chad, pemimpin CDR Acyl, yang muncul dengan mau menerima terhadap dialog, tetapi Acyl meninggal pada tanggal 19 Juli, digantikan oleh Acheikh ibn Oumar, dan CDR dibuat benci oleh hasrat besar Habré untuk menyatukan negara, membuatnya mengacaukan kekuasaan CDR.

Oleh karena itu, dengan dukungan Libya agar Goukouni mengumpulkan kembali GUNT, dibuat pada bulan Oktober sebuah pemerintahan nasional perdamaian dengan kedudukannya di kota Tibesti di Bardai dan mengklaim sebagai pemerintahan legislatif dengan syarat pada persetujuan Lagos. Untuk pertempuran yang akan datang, Goukouni dapat menghitung dalam 3.000 - 4.000 orang diambil dari beberapa milisi, nantinya digabung dalam Armée Nationale de Libération (ANL) di bawah komando orang dari selatan, Negue Djogo.
Sebelum Gaddafi dapat melempar berat seluruhnya di belakang Goukouni, Habré menyerang GUNT di Tibesti, tetapi dapat ditaklukan pada bulan Desember tahun 1982 dan pada bulan Januari tahun1983. Dalam waktu beberapa bulan dapat dilihat memperkuatnya pertempuran di utara, sementara berbicara, dengan penukaran pada bulan Maret dengan kunjungan antara Tripoli dan N'Djamena, rusak. Oleh karena itu, pada tanggal 17 Maret, Habré memberitahu Perserikatan Bangsa Bangsa tentang perselisihan antara Chad dan Libya, meminta untuk pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk memandang agresi dan pendudukan Libya atas teritori Chad.

Gaddafi kini siap untuk sebuah serangan. Serangan dimulai pada bulan Juni, ketika 3.000 pasukan GUNT menyerang Faya-Largeau, benteng pemerintahan utama di utara yang jatuh pada tanggal 25 Juni yang setelah itu melanjutkan serangan menuju Koro Toro, Oum Chalouba dan Abéché, menguasai jalur utama menuju N'Djamena. Libya, ketika menolong dengan merekrut dan melatih serta menyediakan artileri berat untuk GUNT, hanya memasukan beberapa ribuan pasukan tetap untuk serangan, dan hampir dari seluruhnya adalah artileri dan logistik. Hal ini dilakukan karena hasrat Gaddafi bahwa konflik ini harus dibaca sebagai urusan internal Chad.

Komunitas internasional bereaksi terhadap serangan yang didukung Libya, terutama Perancis dan Amerika Serikat. Pada hari yang sama setelah jatuhnya Faya, menteri luar negeri Perancis, Claude Cheysson memperingati Libya bahwa Perancis tidak akan tetap "acuh tak acuh" terhadap intervensi baru Libya di Chad, dan pada tanggal 11 Juli pemerintah Perancis menuduh kembali Libya atas dukungan langsung militer terhadap pemberontak. Pengiriman senjata Perancis dilanjutkan pada tanggal 27 Juni, dan pada tanggal 3 Juli kontingen pertama dari 250 orang Republik Demokratik Kongotiba untuk memperkuat Habré; Amerika Serikat mengumumkan pada bulan Juli bantuan militer dan makanan senilai 10 milyar dolar. Gaddafi juga menderita kemunduran diplomatik dari Organisasi Kesatuan Afrika, bahwa pada pertemuan yang dilakukan pad abulan Juni secara resmi mengakui pemerintahan Habré dan meminta seluruh pasukan luar negeri untuk meninggalkan Chad.

Disuplai oleh Amerika Serikat, Republik Demokratik Kongo dan Perancis, Habré dengan deras mereorganisir pasukannya (sekarang disebut Angkatan Bersenjata Nasional Chad atau FANT dan bergerak ke utara untuk menyerang GUNT dan Libya, yang ditemui di selatan Abéché. Habré membuktikan kemampuannya, menghancurkan pasukan Goukouni dan memulai sebuah serangan balik yang luas yang membolehkannya mengambil kembali Abéché, Biltine, Fada dan, pada tanggal 30 Juli, Faya-Largeau, mengancam untuk menyerang Tibesti dan Jalur Aouzou.

Operasi Manta



Merasa bahwa kehancuran total GUNT akan menjadi tidak dapat ditolerir dan menghancurkan kewibawaannya, dan ditakuti bahwa Habré akan menyediakan untuk semua oposisi atas Gaddafi. Kolonel memanggil intervensi Libya dalam kekuatan. Sekutu Chadnya tidak dapat menjamin kemenangan tanpa bantuan Libya.

Sejak hari setelah jatuhnya kota, Faya-Largeau dijadikan lokasi utama untuk bombardmen udara, menggunakan Su-22 dan Mirage F-1 dari lapangan udara Aouzou,bersama dengan pengebom Tu-22 dari Sebha. Dalam waktu sepuluh hari, pasukan darat dalam jumlah yang besar telah dipasang di timur dan barat Faya-Largeau oleh tentara yang menerbangkan pesawat udara pertama, pasukan lapis baja dan artileri melalui udara ke Sabha, Al Kufrah, dan lapangan udara Aouzou, dan lalu oleh jarak yang lebih pendek pesawat transport ke daerah konflik. Pasukan Libya berjumlah sampai 11.000 orang, dan 80 pesawat tempur berpartisipasi dalam serangan. Libya menegakan peran tradisionalnya dengan menyediakan dukungan api, dan untuk serangan GUNT, dapat berjumlah sekitar 3.000 - 4.000 orang.

GUNT dan Libya pada tanggal 10 Agustus menyerang oasis Faya-Largeau. Habré telah berkubu dengan sekitar 5.000 tentara. Dengan menggunakan peluncur roket, artileri dan tank dan serangan udara berkelanjutan, garis pertahanan FANT dihancurkan ketika GUNT melancarkan serangan terakhir, meninggalkan 700 tentara FANT di tanah. Habré melarikan diri dengan sisa pasukannya ke ibukota tanpa dikejar orang Libya.

Hal ini adalah untuk membuktikan kesalahan besar dalam taktik. Intervensi baru Libya telah menakutkan Perancis, juga karena tekanan Amerika Serikat dan Afrika, diumumkan pada tanggal 6 Agustus kembalinya tentara Perancis ke Chad sebagai bagian dari Operasi Manta, berarti untuk menghentikan serangan GUNT dan Libya dan melemahkan kekuasaan Gaddafi di Chad. 3 hari kemudian beberapa ratus tentara Perancis dikirim ke N'Djamena dari Republik Afrika Tengah, yang nantinya dibawa sampai 2.700, dengan beberapa skuadron Jaguar pesawat tempur dan pengebom. Ini adalah ekspedisi pasukan terbesar yang pernah dilakukan Perancis di Afrika, kecuali untuk Perang Kemerdekaan Aljazair.

Pemerintah Perancis lalu menetapkan batasan yang disebut garis merah, terbentang dari Mao sampai Abéché, dan memperingati bahwa mereka tidak akan mentolerir serangan apapun ke selatan garis ini baik oleh pasukan Libya atau GUNT. Baik Libya dan Perancis tetap di sisi mereka pada garis tersebut, dengan Perancis menunjukan tidak ingin menolong Habré merebut kembali daerah utara, sementara Libya menghindari memulai konflik dengan Perancis dengan menyerang garis. Hal ini menyebabkan adanya divisi negara secara de facto, dengan Libya menguasai seluruh teritori di sisi utara garis merah.

Ketenangan terjadi, selama bulan November, pembicaraan yang disponsori oleh Organisasi Kesatuan Afrika gagal untuk mendamaikan faksi Chad yang berlawanan; pemimpin Ethiopia, Mengistumencoba untuk mendamaikan oposisi di Chad pada awal tahun 1984, namun gagal. Kegagalan Mengistu diikuti pada tanggal 24 Januari oleh serangan GUNT, didukung oleh Libya di pos FANT di daerah Ziguey, pergerakan yang dilakukan dengan tujuan untuk membujuk Perancis dan negara-negara Afrika untuk membuka kembali negoisiasi. Perancis bereaksi dengan melancarkan serangan udara balasan, membawa pasukan baru ke Chad dan meningkatkan garis pertahanan menjadi garis pertahanan ke-16.

Mundurnya pasukan Perancis

Untuk mengakhiri jalan buntu, Gaddafi mengusulkan untuk mundurnya pasukan dari Chad baik pasukan Perancis dan Chad. Usul ini diajukan pada tanggal 30 April. Presiden Perancis, François Mitterrand menerima tawaran itu, dan pada tanggal 17 September, kedua pemimpin mengumumkan mundurnya pasukan akan dimulai pada tanggal 25 September dan akan selesai pada tanggal 10 November. Persetujuan ini pada awalnya dikatakan oleh media sebagai bukti kemampuan diplomatik Mitterrand dan pergerakan menuju solusi krisis di Chad.

Sementara Perancis menghormati saat akhir untuk mundurnya pasukan, Libya membatasi untuk mengundurkan diri beberapa pasukan, ketika terdapat paling sedikit 3.000 pasukan berpatroli di Chad utara. Ketika hal ini menjadi jelas, hal ini menghasilkan sebuah kebingungan untuk Perancis dan tuduh menuduh antara Perancis dan pemerintah Chad.

Menurut Nolutshungu, persetujuan bilateral tahun 1984 antara Perancis dan Libya mungkin telah menyediakan kesempatan yang baik untuk Gaddafi untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan Chad, sementara memperbaiki wibawa internasionalnya dan sikapnya dalam kondisi untuk memaksa Habré menerima perjanjian perdamaian yang termasuk wali Libya. Gaddafi salah membaca mundurnya pasukan Perancis sebagai keinginan untuk menerima kehadiran militer Libya di Chad dan secara de facto penggambungan seluruh BET oleh Libya, sebuah aksi yang pasti untuk bertemu semua faksi oposisi Chad dan Organisasi Kesatuan Afrika dan Perserikatan Bangsa Bangsa. Kesalahan besar Gaddafi akan membawa kekalahannya, dengan pemberontakan GUNT melawannya dan ekspedisi baru Perancis pada tahun 1986.

Operasi Epervier

Selama periode antara tahun 1984 dan tahun 1986, tidak ada pertempuran terjadi, Habré dengan hebat memperkuat posisinya untuk dukungan Amerika Serikat dan kegagalan Libya atas persetujuan Perancis-Libya tahun 1984. Hal ini juga meningkatkan percekcokan yang mulai menyerang GUNT sejak tahun 1984, terpusat pada perselisihan antara Goukouni dan Acheikh ibn Oumar atas kepemimpinan organisasi.

Pada periode ini, Gaddafi memperluas kekuasaannya atas Chad utara, membangun jalan baru dan menegakan lapangan udara baru, Ouadi Doum, berarti untuk dukungan udara yang lebih baik dan operasi darat atas Jalur Aouzou, dan membawa bantuan tahun 1985, meningkatkan pasukan mereka di Chad menjadi 7.000 pasukan, 300 tank dan 60 pesawat tempur. Ketika hal ini terjadi, elemen signifikan atas GUNT dioper kepada pemerintahan Habré, sebagai bagian dari kebijakan akomodasi untuk nantinya.

Pembelotan ini menakutkan Gaddafi karena GUNT menyediakan penutup atas hak kekuasaan Libya di Chad. Untuk menaruh halangan untuk hal ini dan menyatukan kembali GUNT, serangan dilancarkan atas garis merah, yang tujuan utamanya adalah N'Djamena. Serangan ini dimulai pada tanggal 10 Februari. 5.000 tentara Libya dan 5.000 tentara GUNT ikut serta dalam pertempuran ini, dan berkonsentrasi atas markas FANT di Kouba Olanga, Kalait dan Oum Chalouba. Kampanye ini berakhir sebagai bencana untuk Gaddafi, ketika serangan balik FANT pada tanggal 13 Februarimenggunakan perlengkapan baru dari Perancis memaksa penyerang untuk mundur dan mereorganisasi.

Hal yang paling penting adalah reaksi Perancis atas serangan ini. Gaddafi percaya bahwa karena pemilihan umum yang akan datang, Mitterrand akan enggan untuk memulai ekspedisi yang berisiko dan mahal untuk menyelamatkan Habré. Evaluasi ini dibuktikan salah. Presiden Perancis tidak dapat secara politik berisiko untuk menunjukan kelemahannya atas agresi Libya. Sebagai hasilnya, pada tanggal 14 Februari, Opérasi Epervier dimulai, membawa 1.200 tentara Perancis dan beberapa skuadron Jaguars di Chad. Dua hari kemudian, untuk mengirim pesan yang jelas kepada Gaddafi, angkatan udara Perancis mengebom lapangan udara Ouadi Doum yang menyebabkan balas dendam. Beberapa hari kemudian, Libya mengebom bandara N'Djamena.

Perang Tibesti

Kekalahan diderita pada bulan Februari dan Maret mempercepat kehancuran GUNT. Pada bulan Maret pada pembicaraan yang disponsori Organisasi Kesatuan Afrika dilakukan di Kongo, Goukouni gagal untuk muncul, banyak dugaan tangan Libya menyebabkan penyebrangan dari GUNT atas wakil presidennya Kamougué, diikuti oleh angkatan bersenjata pertama dan originel FROLINAT. Pada bulan August, ini adalah giliran CDR untuk meninggalkan koalisi, menguasai kota Fada. Ketika pada bulan Oktober, Angkatan Bersenjata Rakyat Goukouni berusaha merebut kembali Fada, garnisun Libya menyerang tentara Goukouni, memberikan jalan untuk pertempuran yang ahkirnya mengakhiri GUNT. Pada bulan yang sama, Goukouni ditangkap oleh Libya, sementara pasukannya memberontak melawan Gaddafi, mencabut Libya dari semua posisinya di Tibesti, dan pada tanggal 24 Oktober berbalik kepada Habré.

Untuk mendirikan kembali jalur persediaan dan merebut kembali kota Bardai, Zouar dan Wour, Libya mengirim di Tibesti pasukan sebesar 2.000 orang dengan tank T-62 dan dukungan berat angkatan udara Libya. Serangan ini dimulai dengan sukses, mengeluarkan GUNT dari bentengnya, dan juga penggunaan bahan kimia dan gas beracun. Serangan ini menyebabkan reaksi dari Habré, yang mengirim 2.000 tentara FANT untuk dihubungkan dengan pasukan GUNT. Mitterrand juga bereaksi, memerintahkan sebuah misi yang mengirim bahan bakar, makanan, amunisi dan misil anti-tank yang diturunkan dengan parasut untuk pemberontak, dan juga personal militer. Melalui aksi ini, Perancis membuat jelas bahwa mereka tidak merasa tidak harus tetap berada di garis merah, dan siap untuk beraksi jika memang penting.

Ketika secara militer Habré hanya sebagian sukses dalam usahanya untuk mengusir Libya dari Tibesti (Libya akan meninggalkan daerah itu pada bulan Maret, setelah berbagai kekalahan di timur laut telah membat daerah tersebut tak dapat dipertahankan), kampanye ini adalah strategi hebat untuk FANT yang mengubah perang saudara menjadi perang saudara melawan orang dari negara lain yang menyerang, mendorong kesatuan nasional yang sebelumnya tidak pernah terlihat di Chad.

Perang Toyota

Pada pembukaan tahun 1987, tahun terakhir perang, pasukan Libya masih mengagumkan, berjumlah 8.000 pasukan dan 300 tank, tetapi telah kehilangan dukungan sekutu di Chad, yang biasanya menyediakan mata-mata dan bertindak sebagai infantri penyerang. Tanpa mereka, garnisun Libya mirip dengan pulau yang terisolasi dan mudah diserang di padang pasir Chad. Pada sisi lainnya, FANT dengan hebat semakin kuat dan memiliki 10.000 tentara, memiliki truk Toyota yang dapat bergerak dengan cepat dan beradaptasi dengan pasir dilengkapi dengan misil anti-tank MILAN, yang memberi nama "Perang Toyota" untuk fase terakhir konflik Chad-Libya.

Pada tanggal 2 Januari 1987 , Habré memulai serangannya terhadap Chad utara dengan serangan yang sukses atas basis komunikasi Libya yang dipertahankan cukup baik di Fada. Untuk melawan tentara Libya, panglima besar Chad Hassan Djamous melakukan berbagai pergerakan cepat, menyelubungi posisi Libya dan menghancurkan mereka dengan serangan mendadak dari semua sisi. Strategi ini diulang oleh Djamous pada bulan Maret saat pertempuran B'ir Kora dan pertempuran Ouadi Doum, menimbulkan kerusakan dan memaksa Gaddafi untuk mundur dari Chad utara.

Giliran ini membahayakan kekuasaan Libya atas Jalur Aouzou, dan Aouzou jatuh pada bulan Agustus ketangan FANT, hanya dapat ditaklukan oleh serangan balasan Libya dan penolakan Perancis untuk menyediakan perlindungan udara atas Chad. Habré dengan siap membalas atas kemunduran ini dengan terjadinya pertempuran Maaten al-Sarra yang merupakan serangan pertama Chad atas teritori Libya selama konflik Chad-Libya yang terjadi pada tanggal 5 September. Serangan ini adalah serangan kejutan dan sukses melawan kunci dari lapangan udara Libya di Maaten al-Sarra. Serangan ini adalah bagian dari rencana untuk menghilangkan ancaman kekuatan udara Libya sebelum serangan baru atas Aouzou.

Serangan yang direncanakan atas Aouzou tidak pernah terjadi. Kemenangan didapat di Maaten membuat Perancis takut bahwa serangan di lapangan udara Maten al-Sarra adalah panggung pertama serangan atas Libya yang sebenernya, sebuah kemungkinan yang tidak dapat ditolerir Perancis. Seperti untuk Gaddafi, menjadi pokok atas tekanan internal dan internasional, ia menunjukan dirinya lebih bersifat mendamaikan yang dibawa sebagai sebuah hasil Organisasi Kesatuan Afrika atas gencatan senjata pada tanggal 11 September.

Akhir dari konflik

Sementara terjadi banyak pelanggaran gencatan senjata, insiden yang terjadi relatif kecil. Kedua pemerintahan dengan segera memulai manuver diplomatik untuk menyetir opini dunia atas kasus ini. Pemerintahan Reagan melihat bahwa pembukaan konflik ini adalah kesempatan terbaik untuk menurunkan Gaddafi.

Relasi antara kedua negara terus menerus membaik, dengan Gaddafi memberi tanda bahwa ia ingin menormalisasikan hubungan dengan pemerintah Chad, menuju poin pengakuan bahwa perang itu telah menjadi sebuah kesalahan. Pada bulan Mei tahun 1988, pemimpin Libya menyatakan bahwa ia akan mengakui Habré sebagai presiden Chad "sebagai hadiah untuk Afrika"; hal ini memimpin ke arah pembukaan kembali relasi diplomatik antara kedua negara pada tanggal 3 Oktober. Pada tanggal 31 Agustus 1989, pemerintah Chad dan Libya bertemu di Aljazair untuk menegosiasikan Kerangka Pesetujuan dalam Perdamaian atas Perselisihan Wilayah. Gaddafi setuju untuk mendiskusikan dengan Habré tentang jalur Aouzou dan membawa hal ini ke Mahkamah Internasional jika pembicaraan bilateral gagal. Setelah setahun atas pembicaraan yang tidak meyakinkan, kedua belah pihak membawa hal ini pada bulan September tahun 1990 ke Mahkamah Internasional.

Hubungan Chad-Libya menjadi lebih baik ketika Idriss Déby yang didukung Libya menggantikan Habré pada tanggal 2 Desember. Gaddafi adalah kepala negara pertama yang mengakui pemerintahan baru, dan ia juga menandatangani perjanjian persahabatan dan kooperasi dalam berbagai tingkat, tetapi Déby menyatakan bahwa ia akan tetap bertempur untuk menjaga jalur tersebut dari tangan Libya.

Permasalahan Aouzou diakhiri dengan baik pada tanggal 3 Februari 1994 ketika hakim di Mahkamah Internasional dengan jumlah 16 banding 1 membuat Jalur Aouzou menjadi milik Chad. Pengadilan atas kasus tersebut dilaksanakan tanpa gangguan. Pada tanggal 4 April, keduanya menandatangani sebuah persetujuan berisi tentang implementasi pengadilan. Dengan diawasi dunia internasional, mundurnya tentara Libya dari jalur dimulai pada tanggal 15 April dan selesai pada tanggal 10 Mei. Transfer terakhir terjadi pada tanggal 30 Mei ketika kedua belah pihak menandatangani sebuah deklarasi gabungan yang menyatakan bahwa mundurnya pasukan Libya telah berhasil.


Saturday, 31 December 2011

Soekarno

Ir. Soekarno (Sukarno, nama lahir: Koesno Sosrodihardjo) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri yang menamainya Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya - berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat - menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.

Nama

Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Koesno Sosrodihardjo oleh orangtuanya. Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur lima tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya. Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".

Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Sebutan akrab untuk Soekarno adalahBung Karno.

Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil Soekarno?" karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga. Entah bagaimana, seseorang lalu menambahkan nama Achmeddi depan nama Soekarno. Hal ini pun terjadi di beberapa Wikipedia, seperti wikipedia bahasa Denmark dan bahasa Spanyol.

Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan ibadah haji. Dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab.

Kehidupan

Masa kecil dan remaja

Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS)untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya, Jawa Timur. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama H.O.S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.

Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Sebagai arsitek

Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai arsitek alumni dari Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925.

Pekerjaan dan Karya di Bidang Arsitektur

                Ir. Soekarno pada tahun 1926 mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya.

Ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid jami' di tengah kota.

Pengaruh Terhadap Karya Arsitektural Semasa Menjadi Presiden

Semasa menjabat sebagai presiden, ada beberapa karya arsitektur yang dipengaruhi atau dicetuskan oleh Soekarno. Juga perjalanan secara maraton dari bulan Mei sampai Juli di tahun 1956 ke negara-negara Amerika Serikat, Kanada, Italia, Jerman Barat dan Swiss. Membuat cakrawala alam pikir Soekarno semakin kaya dalam menata Indonesia secara holistik dan menampilkannya sebagai negara baru merdeka. Soekarno membidik Jakarta sebagai wajah muka Indonesia terkait beberapa kegiatan berskala internasional yang diadakan di kota itu, namun juga merencanakan sebuah kota sejak awal yang diharapkan sebagai pusat pemerintahan di masa datang. Beberapa karya dipengaruhi oleh Soekarno atau atas perintah dan koordinasinya dengan beberapa arsitek sepertiFrederich Silaban dan R.M. Soedarsono, dibantu beberapa arsitek yunior untuk visualisasi. Beberapa desain arsitektural juga dibuat melalui sayembara.

o   Masjid Istiqlal 1951
o   Monumen Nasional 1960
o   Gedung Conefo
o   Gedung Sarinah
o   Wisma Nusantara
o   Hotel Indonesia 1962
o   Tugu Selamat Datang
o   Monumen Pembebasan Irian Barat
o   Patung Dirgantara

                Tahun 1955 Ir. Soekarno menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan sebagai seorang arsitek, Soekarno tergerak memberikan sumbangan ide arsitektural kepada pemerintah Arab Saudi agar membuat bangunan untuk melakukan sa’i menjadi dua jalur dalam bangunan dua lantai. Pemerintah Arab Saudi akhirnya melakukan renovasi Masjidil Haram secara besar-besaran pada tahun1966, termasuk pembuatan lantai bertingkat bagi umat yang melaksanakan sa’i menjadi dua jalur dan lantai bertingkat untuk melakukan tawaf

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929 dan dipenjara di Penjara Banceuy, pada tahun 1930dipindahkan ke Sukamiskin dan memunculkan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat (pledoi), hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.

Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Masa penjajahan Jepang

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk "mengamankan" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.
Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddinkarena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh KaisarHirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.

Masa Perang Revolusi

Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno danMohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.

Masa kemerdekaan

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet seumur jagung" membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.

Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang mengubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.

Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

Kejatuhan

Situasi politik Indonesia menjadi tidak menentu setelah enam jenderal dibunuh dalam peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September atau G30S pada 1965. Pelaku sesungguhnya dari peristiwa tersebut masih merupakan kontroversi walaupun PKI dituduh terlibat di dalamnya. Kemudian massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan. Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Sikap Soekarno yang menolak membuabarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik.

Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelas Maret yang ditandatangani oleh Soekarno. Isi dari surat tersebut merupakan perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden. Surat tersebut lalu digunakan oleh Soeharto yang telah diangkat menjadi PanglimaAngkatan Darat untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. Kemudian MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No. IX/1966 tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No. XV/1966 yang memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk setiap saat menjadi presiden apabila presiden berhalangan.

Soekarno kemudian membawakan pidato pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS. Pidato tersebut berjudul "Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. MPRS kemudian meminta Soekarno untuk melengkapi pidato tersebut. Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Soekarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama.

Hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka. Dengan ditandatanganinya surat tersebut maka Soeharto de factomenjadi kepala pemerintahan Indonesia. Setelah melakukan Sidang Istimewa maka MPRS pun mencabut kekuasaan Presiden Soekarno, mencabut gelar Pemimpin Besar Revolusi dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI hingga diselenggarakan pemilihan umum berikutnya.

Sakit hingga meninggal

Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965. Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964. Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional. Ia masih bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik. Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh Ratna Sari Dewi. Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan. Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati.

Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:

1.                   Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Ir. Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.

2.                   Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir. Soekarno dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.


3.                   Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir. Soekarno hingga saat meninggalnya.

Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya. Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.

Peninggalan

Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Soekarno pada 6 Juni 2001, maka Kantor Filateli Jakarta menerbitkan perangko "100 Tahun Bung Karno".Perangko yang diterbitkan merupakan empat buah perangko berlatarbelakang bendera Merah Putih serta menampilkan gambar diri Soekarno dari muda hingga ketika menjadi Presiden Republik Indonesia. Perangko pertama memiliki nilai nominal Rp500 dan menampilkan potret Soekarno pada saat sekolah menengah. Yang kedua bernilai Rp800 dan gambar Soekarno ketika masih di perguruan tinggi tahun 1920an terpampang di atasnya. Sementara itu, perangko yang ketiga memiliki nominal Rp. 900 serta menunjukkan foto Soekarno saat proklamasi kemerdekaan RI. Perangko yang terakhir memiliki gambar Soekarno ketika menjadi Presiden dan bernominal Rp. 1000. Keempat perangko tersebut dirancang oleh Heri Purnomo dan dicetak sebanyak 2,5 juta set oleh Perum Peruri. Selain perangko, Divisi Filateli PT Pos Indonesia menerbitkan juga lima macam kemasan perangko, album koleksi perangko, empat jenis kartu pos, dua macam poster Bung Karno serta tiga desain kaus Bung Karno.

Perangko yang menampilkan Soekarno juga diterbitkan oleh Pemerintah Kuba pada tanggal 19 Juni 2008. Perangko tersebut menampilkan gambar Soekarno dan presiden Kuba Fidel Castro. Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba.

Nama Soekarno pernah diabadikan sebagai nama sebuah gelanggang olahraga pada tahun 1958. Bangunan tersebut, yaitu Gelanggang Olahraga Bung Karno, didirikan sebagai sarana keperluan penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Pada masa Orde Baru, komplek olahraga ini diubah namanya menjadi Gelora Senayan. Tapi sesuai keputusan Presiden Abdurrahman Wahid, Gelora Senayan kembali pada nama awalnya yaitu Gelanggang Olahraga Bung Karno. Hal ini dilakukan dalam rangka mengenang jasa Bung Karno.

Setelah kematiannya, beberapa yayasan dibuat atas nama Soekarno. Dua di antaranya adalah Yayasan Pendidikan Soekarno dan Yayasan Bung Karno. Yayasan Pendidikan Soekarno adalah organisasi yang mencetuskan ide untuk membangun universitas dengan pemahaman yang diajarkan Bung Karno. Yayasan ini dipimpin oleh Rachmawati Soekarnoputri, anak ketiga Soekarno dan Fatmawati. Pada tahun 25 Juni 1999 Presiden Bacharuddin Jusuf Habibiemeresmikan Universitas Bung Karno yang secara resmi meneruskan pemikiran Bung Karno, Nation and Character Building kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Sementara itu, Yayasan Bung Karno memiliki tujuan untuk mengumpulkan dan melestarikan benda-benda seni maupun non-seni kepunyaan Soekarno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Yayasan tersebut didirikan pada tanggal 1 Juni 1978 oleh delapan putra-putri Soekarno yaitu Guntur Soekarnoputra,Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Taufan Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra dan Kartika Sari Dewi Soekarno. Di tahun 2003, Yayasan Bung Karno membuka stan di Arena Pekan Raya Jakarta.] Di stan tersebut ditampilkan video pidato Soekarno berjudul "Indonesia Menggugat" yang disampaikan di Gedung Landraad tahun 1930 serta foto-foto semasa Soekarno menjadi presiden. Selain memperlihatkan video dan foto, berbagai cinderamata Soekarno dijual di stan tersebut. Diantaranya adalah kaus, jam emas, koin emas, CD berisi pidato Soekarno serta kartu pos Soekarno.

Seseorang yang bernama Soenuso Goroyo Sukarno mengaku memiliki harta benda warisan Soekarno. Soenuso mengaku merupakan mantan sersan dari Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang. Ia pernah menunjukkan benda-benda yang dianggapnya sebagai warisan Soekarno itu kepada sejumlah wartawan di rumahnya di Cileungsi, Bogor. Benda-benda tersebut antara lain adalah sebuah lempengan emas kuning murni 24 karat yang terdaftar dalam register emas JM London, emas putih dengan cap tapal kuda JM Mathey London serta plakat logam berwarna kuning dengan tulisan ejaan lama berupa deposito hibah. Selain itu terdapat pula uang UBCN (Brasil) dan Yugoslavia serta sertifikat deposito obligasi garansi di Bank Swiss dan Bank Netherland. Meskipun emas yang ditunjukkan oleh Soenuso bersertifikat namun belum ada pakar yang memastikan keaslian dari emas tersebut.

Penghargaan

Semasa hidupnya, Soekarno mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas di dalam dan luar negeri. Perguruan tinggi dalam negeri yang memberikan gelar kehormatan kepada Soekarno antara lain adalah Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin dan Institut Agama Islam Negeri Jakarta. Sementara itu, Columbia University (Amerika Serikat), Berlin University (Jerman), Lomonosov University (Rusia) dan Al-Azhar University (Mesir) merupakan beberapa universitas luar negeri yang menganugerahi Soekarno dengan gelar Doktor Honoris Causa.

Pada bulan April 2005, Soekarno yang sudah meninggal selama 104 tahun mendapatkan penghargaan dari Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki. Penghargaan tersebut adalah penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions of OR Tambo yang diberikan dalam bentuk medali, pin, tongkat, dan lencana yang semuanya dilapisi emas. Soekarno mendapatkan penghargaan tersebut karena dinilai telah mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahandan membebaskan diri dari apartheid. Acara penyerahan penghargaan tersebut dilaksanakan di Kantor Kepresidenan Union Buildings di Pretoria dan dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri yang mewakili ayahnya dalam menerima penghargaan.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno