HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Karena teriak di sini susah, kasian tetangga kalo denger. Mending teriak di sini aja ... Sebenernya sih belum puas juga, tapi ... berhubung di sini gak ada gunung atau sawah sih ya, jadi susah deh buat teriak hahaha
Gue teriak bukan karena stress karena tugas seperti kebanyakan temen-temen gue, tapi karena setelah membaca diary 'seseorang'. Yahh, pengalaman hidupnya agak lebih banyak mirip dengan gue makanya gue suka bacanya, apalagi sebagian besar bisa jadi pelajaran buat gue. Tapii ... karena saking miripnya ...
Pengalaman yang dia tulis, pengalaman jelek pun ... Astagfirullah ... bikin gue jadi keinget juga. Apalagi seperti gue bilang sebelumnya, 'Pengalaman hidupnya agak lebih banyak mirip dengan gue'. Jadi .. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sebenernya salah gue juga yang baca, jadi berasa ngaca. Gue gak bakal ngira, kalo pengalaman jelek pun bisa mirip .. Mana emosi-nya keliatan banget dari tulisannya, aduh, niat mau ngilangin kebosenan malah berujung pada kelemesan. Piye iki mau belajar?
Dah keburu lemes (lemes apa males?), tapi bener deh lemes, ampe tadi disuruh ikut nemenin belanja ke Alfa aja gak mau (padahal tinggal tunjuk aja kalo mau beli), bahkan jus pun gak mampu menggoda gue ahahaha parah :(
Mudah-mudahan ini cuma sementara aja deh ahahaha. Jadi ragu mau terus baca diary tuh orang apa enggak, tapi kadang bisa jadi pelajaran buat gue, tapiii kalo buat nginget kejadian gak enak ... gue gak mau ... (egois banget ya gue? emang, namanya juga manusia *atau cuma gue aja?* maunya yang enak-enak aja ahahaha)
Yak, sekian dari sini, semoga abis nulis ini dan melakukan 'sesuatu', pikiran gue jadi bisa tenang lagi, amin.
Oh iya, setelah gue ber-wirit sedikit dan menyanyikan lagu BATMAN NANANANANA sambil membayangkan batman ngehajar preman-preman, pikiran gue jadi agak tenang nih wkwkwk Alhamdulillah :DD lanjutin ahh biar 100% filled up.
Dan sekarang, gue nyesel gak ikut ke Alfa ... jus alpukat ku .. hiks, sabar aja deh ...
Btw, udah ah, waktunya belajar sekarang nanananana ~
Thursday, 26 April 2012
Tuesday, 24 April 2012
DEAR DIARY, aneeehhh
Kenapa ya belakangan ini pikiran gue selalu diliputi oleh pertanyaan "Kenapa?".
Entah itu pertanyaan, "Kenapa ini begini, begitu, ... ?" atau "Kenapa dia begini, begitu, ...?" atau "Kenapa sih ini/dia begini, begitu ... padahal kan ini/dia begini, begitu ...?" dan berujung dengan pertanyaan "Kenapa ya?"
Misal, waktu itu dan sampe sekarang ada pertanyaan, "Kenapa zaman dulu, sekolah gak pake nilai absen? Kenapa sekarang pake?"
Sebenernya pertanyaan kayak gitu bisa gue jawab pake logika gue, tapiii entah kenapa jawaban pertanyaann itu dan pertanyaan-pertanyaan lain, gak pernah bikin gue merasa puas. Sampe akhirnya gue tanya ke orang tua gue, dan jawabannya pun sama atau bahkan gak bisa jawab dan jadi ikutan bingung. Ujung-ujungnya pertanyaan "Kenapa ya?" masih muncul sampe sekarang di kepala gue.
Entah kenapa, sekarang gue juga jadi ikutan bingung ama diri gue sendiri. Kayaknya hati ama otak kagak sejalan, aneh banget ...
Padahal dulu keknya hati ama otak gue masih sinkron deh, kok sekarang jadi kayak misah gini ya? Kenapa ya?
Jadi bingung ...
Misal, jawaban dari pertanyaan yang gue suguhin sebelumnya, gue jawab berdasarkan logika gue, jawabannya "Karena zaman dulu sekolah susah, gak perlu diabsen siswa/siswi-nya juga udah masuk sendiri. Sekolah itu udah masuk kategori 'mewah' dan gak semua orang bisa sekolah. Sedangkan kenapa zaman sekarang absen itu dinilai, karena selain bisa meningkatkan nilai-nilai siswa/i-nya, guru-guru/dosen-dosennya gak bakal makan gaji buta karena gak ada siswa/i-nya yang masuk atau cuma sedikit.
Kenapa gak ada yang masuk atau cuma sedikit yang masuk? Karena sekolah zaman sekarang itu sudah bukan 'mewah' lagi tapi 'pokok', secara zaman sekarang itu yang namanya home schooling juga udah ada, ngambil paket A, B, dan C juga bisa. Jadi, udah bukan 'mewah' lagi kan? Penggantinya udah banyak. Belum lagi siswa/i yang kena godaan duniawi."
Itu kalo dijawab berdasarkan logika, tapi gak cukup sampe situ ada lagi pertanyaan, "Kenapa guru-guru/dosen-dosen kalo siswa/i yang dateng cuma dikit kebanyakan mereka jadi males buat ngajar? Bukannya mereka jadi guru dan dosen itu niatnya buat memberikan ilmu pada siswa/i-nya? Atau karena menyambung hidup? Atau karena gak diterima dimana-mana? Atau karena gajinya gede dan jam kerjanya lebih sedikit dari kerjaan yang lain? Kalau memang begitu, kenapa setelah mereka jadi guru atau dosen, kemudian membulatkan tekad buat memberikan ilmu pada siswa/i-nya. Kenapa gak begitu? Kenapa ..."
Dan berujung dengan kalimat, "Aneh banget ...".
Itu cuma satu pertanyaan lho, yang ada di pikiran gue ini lebih dari itu, mungkin bisa lebih dari 10. Entahlah, gue jadi bingung sendiri, gue jadi gak ngerti pemikiran orang-orang zaman sekarang, atau lebih tepatnya gue mengerti tapi merasa aneh dengan mereka, jadi ujung-ujungnya gak ngerti juga.
ANEEEEEEEHHHHHHHHHHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
Gak tau ah, jadi bingung sendiri gue ...
Labels:
Diary

