Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Sunday, 7 November 2010

TSUNAMI MENTAWAI: KORBAN TEWAS 108, HILANG 502 ORANG


PADANG, KOMPAS.com — Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop) Penanggulangan Bencana Sumatera Barat (Sumbar) telah menerima laporan korban tewas sebanyak 80 orang yang sudah ditemukan hingga Selasa malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Data yang dihimpun pada Pusdalop PB Sumbar, Selasa (26/10/2010) malam, masih tercatat 107 warga yang diduga hilang dan sekitar 645 masih berada di pengungsian.

Perkembangan data korban tewas yang ditemukan masih simpang siur, sisi lain Ketua DPRD Mentawai Hendri Dori menginformasikan, sudah ditemukan korban tewas sebanyak 108 dan diduga hilang sebanyak 502 orang.

Kepala Badan Panggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Harmensyah mengatakan, pihaknya menerima laporan sementara dari Posko Ronda Sikakap dan telah ditemukan sebanyak 80 orang jasad dan 107 masih diduga hilang.
Sementara kerusakan akibat gempa dan tsunami, berdasarkan data sementara, sudah sebanyak 100 unit rumah warga rusak berat dan rusak sedang.

Pencarian terhadap korban yang hilang terus dilakukan oleh tim gabungan di titik yang diduga terkena dampak bencana tsunami. Selain itu, BPBD Sumbar sudah mengirimkan logistik serta tim SAR dan PMI ke Mentawai.

Harmesyah mengatakan, pengiriman tim dan logistik dihadapkan dengan cuaca buruk sehingga cukup berhati-hati untuk melakukan pelayaran.

“Kita berharap tim dan logistik yang sudah dikirimkan Selasa sore sekitar pukul 17.00 WIB bisa sampai ke Mentawai pada Rabu pagi nanti,” katanya.

Gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR), lokasi gempa berada pada 3.61 Lintang Selatan (SL) dan 99.93 Bujur Timur (BT) pada pusat 78 km barat daya Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumbar, telah menimbulkan tsunami dengan ketinggian 1 sampai 3 meter.


Komentar Saya: 

Saya berharap pemerintah dapat membantu meng-evakuasi dan memberi pangan yang cukup bagi warga korban. diharapkan juga agar dipasang suatu sistem peringatan agar sewaktu-waktu, ketika ada bencana seperti tsunami atau gempa, pemerintah dapat memberitahukan dulu kepada warga di sana agar menjauh dan pindah sementara sampai keadaan terlihat aman.

ARTIKEL BENCANA GUNUNG MERAPI







Keanehan di Letusan Merapi 
Senin, 1 Nopember 2010 | 08:44 WIB
Sejak dini hari tadi sudah menggugurkan lava sebanyak 16 kali

LETUSAN Gunung Merapi tahun ini sangat berbeda dengan letusan yang terjadi pada 2006, 2001, dan 1997. Ada yang tidak biasa pada letusan kali ini. "Memang, Merapi tahun ini aneh," Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Kementerian ESDM, Surono, Senin (1/11).

Keanehan itu terlihat pada saat letusan besar kedua yang terjadi pada Minggu dini hari 31 Oktober 2010. Merapi mengeluarkan suara. Suara dentuman yang keras yang membuat semua orang panik. Termasuk tentara, polisi, petugas evakuasi, apalagi pengungsi. Semua panik. "Dalam sejarahnya, Merapi memang tidak pernah mengeluarkan suara dentuman," ujar Surono.

Apa penyebabnya? Menurut Surono, itu adalah proses eksplosif biasa. Dan suara keras itu diduga berasal dari kandungan gas yang terkandung dalam magma di perut Merapi. Surono mengakui, karakter Merapi itu bukan seperti gunung berapi lainnya yang mengeluarkan suara seperti petasan saat meletus.

Apakah ini karena energi yang sangat besar terkandung di dalam Merapi? "Saya sudah prediksi sejak awal, energi Merapi kali ini memang lebih besar dari 1997, 2001, dan 2006. Apakah ini salah satu bentuknya? Saya belum bisa pastikan," Surono menjelaskan.

Bencana Merapi yang terjadi pada Selasa 26 Oktober 2010 petang, sekitar pukul 18.02 WIB, menewaskan 34 orang termasuk Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. Saat ini, jumlah pengungsi letusan gunung Merapi sekitar 29 ribu orang yang terbagi di 28 titik tempat penampungan akhir (TPA).
Maka itu, Surono kembali mengingatkan pemerintah daerah setempat untuk bersikap tegas kepada warga pengungsi. Area 10 kilometer dari puncak Merapi harus steril.

"Jangan sampai ada warga yang naik lagi ke atas untuk mencari makan buat ternaknya. Kondisi Merapi ini bukan lari jarak pendek. Kami ingin mencapai finish yang baik," kata Surono memberi analogi.
Sejak Senin (1/11) dini hari tadi hingga sekitar pukul enam pagi, Merapi sudah menggugurkan lava sebanyak 16 kali. "Selain guguran lava, sudah ada fase kegempaan sebanyak dua kali," kata Surono.

Menurut Surono, status Merapi masih Awas dan membahayakan. Berbeda dengan sehari sebelumnya, sejak dini hari hingga pagi ini, Merapi tidak mengeluarkan awan panas ‘wedhus gembel’ dan gempa dengan frekuensi rendah.

Kondisi ini berbeda dengan sehari sebelumnya. Selama satu hari penuh pada 31 Oktober kemarin, telah terjadi 33 kali kegempaan di Merapi. Kemudian, guguran lava terjadi sebanyak 166 kali.

"Ada gempa vulkanik empat kali. Dan yang baru muncul ini adalah gempa frekuensi rendah sebanyak 22 kali," uajr Sorono. Gempa frekuensi rendah itu tidak terasa oleh penduduk. Karena memang frekuensinya sangat rendah.

Gempa frekuensi rendah ini baru muncul selama Merapi berstatus Awas. Ini adalah aktivitas baru Merapi. "Dan tidak membahayakan," kata dia.






 Komentar Saya:

Berdasarkan artikel ini maupun artikel lainnya yang saya baca tentang bencana merapi tahun ini. ya, memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. menurut saya ada kemungkinan merapi akan meletuskan lavanya lebih besar lagi :( dan saya sarankan kepada pemerintah untuk selalu waspada terhadap gunung yang satu ini dan menjaga masing-masing tempat pengungsian agar tidak ada warga yang kembali lagi ke lereng merapi.